Pengembangan Ekonomi Lokal Berperan Dalam Pembangunan Kota

Dikirim oleh : Administrator | Kategori : PU BM & SDA | 13/09/2016 11:42:02 WIB

Palembang - Berbicara Kota Palembang tentu langsung teringat akan Pempek Palembang. Usaha makanan ini memang diakui menjadi salah satu penggerak ekonomi kota. "Setiap hari 3-4 ton pempek yang keluar Palembang. Industri makanan memang besar di Palembang, namun sayangnya bahan baku seperti sagu dan garam masih berasal dari luar Palembang," kata Didik Susetyo, akademisi dari Universitas Sriwijaya dalam diskusi bertema pengembangan ekonomi lokal di Kota Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (1/6).

Diskusi tersebut merupakan bagian sosialisasi yang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di delapan kota dalam rangka menjaring masukan masyarakat untuk dibawa ke forum Prepatory Committe 3 Habitat III di Surabaya 25-27 Juli 2016. Turut hadir dalam diskusi tersebut Lana Winayanti Staf Ahli Menteri PUPR, Sapto Nugroho Inisiatif Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA), Prof. Didik Susetyo Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya, M Nurhendratna Bappeda Kota Palembang dan Fiki Satari Bandung Creative City Forum (BCCF).

Ditambahkan Didik Susetyo, dari data yang ada pertumbuhan ekonomi Kota Palembang juga dipengaruhi adanya event olahraga seperti PON, SEA Games dan yang akan datang Asian Games 2018. "Adanya event olahraga mendorong investasi infrastruktur yang menjadi trigger ekonomi kota Palembang," katanya. Namun bila tidak ada event, pertumbuhan ekonomi Palembang kembali menurun. Pertumbuhan ekonomi Palembang di 2011 ketika menjadi lokasi penyelenggaraan Sea Games ke-26 mencapai 6,5 persen dan mengalami penurunan di 2014 yakni 5,6 persen.

Disamping ditopang oleh ekonomi formal, ekonomi kota banyak diisi oleh sektor informal seperti pedagang kaki lima (PKL) dan ojek yang banyak menghidupi dan dibutuhkan masyarakat kota. "PKL butuh tempat usaha, masyarakat juga butuh PKL, namun hidup meng-kota menuntut disiplin, teratur dan taat aturan," kata Lana Winayanti. 

Penduduk Indonesia sendiri saat ini sebagian besar tinggal di kota. Kota-kota tumbuh tidak hanya adanya urbanisasi, namun desa yang berada di pinggir kota juga kemudian berkembang menjadi kota. Pembangunan kota, menurutnya harus bersifat inklusif, tidak hanya mengakomodir sektor formal namun juga informal. 

Pemerintah Kota Palembang, kata M Nurhendratna telah mengakomodir keberadaan PKL namun tetap dilakukan pengaturan jam berjualan serta bangunan yang tidak boleh permanen. Menurutnya, di samping usaha makanan khas Palembang, ekonomi yang tengah dikembangkan adalah usaha kain songlet khas Palembang. 

Sementara itu, Sapto Nugroho mengatakan untuk mengurangi beban kota, pengembangan desa dibutuhkan melalui penyediaan infrastruktur dasar seperti ketersediaan air, jalan untuk akses ke pasar dan listrik. 

Pemberdayaan komunitas-komunitas yang ada di kota juga bisa menjadi penggerak ekonomi lokal perkotaan. Fiki Satria menceritakan pengalamannya dalam mengembangkan kampung-kampung kreatif di Bandung yang sudah dimulai 2012 oleh BCCF. Kampung kreatif dikembangkan sesuai potensi dan karakteristik wilayahnya. Tujuannya menciptakan kampung kreatif mandiri berbasis bisnis pariwisata yang menonjolkan produk/brand lokal. Disamping itu membentuk pemimpin lokal yang menjaga keberlanjutan program dan bekerjasama dengan kampung kreatif lainnya. 

Menurut Fiki, saat ini kegiatan revitalisasi Karang Taruna kini telah menjadi organisasi paling masif di Kota Bandung dengan 36.372 orang anggota dengan peran nyata membantu pemerintah dalam penanganan masalah sosial. Kedepan akan dikembangkan menjadi pusat distribusi yang menggerakkan ekonomi kerakyatan di Kota Bandung. 

Sebagai informasi, Habitat III merupakan agenda Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) tentang permukiman dan pembangunan perkotaan berkelanjutan, dengan tujuan untuk memastikan komitmen bersama menuju pembangunan perkotaan yang berkelanjutan. Sidang ini akan diadakan di Quito, Ecuador pada 17-20 Oktober 2016 mendatang.

Menuju Habitat III, serangkaian acara persiapan dilakukan untuk merumuskan isu-isu perkotaan di belahan dunia. Majelis Umum PBB, dalam Resolusi 67/216 memutuskan untuk membentuk Komite Persiapan (PrepCom) yang terbuka bagi semua negara anggota PBB.

PrepCom1 diselenggarakan di New York, Amerika (17-18 September 2014) dan PrepCom2 di Nairobi, Kenya (14-16 April 2015). Tahun ini, PrepCom3 di Surabaya, Indonesia (25-27 Juli 2016) yang akan dihadiri 193 negara.

PrepCom3 ini merupakan pertemuan persiapan terakhir dan terpenting menuju Habitat III. Pertemuan tersebut akan menggali masukan dan perspektif akhir dari berbagai negara dan stakeholder lainnya. Isu-isu kunci urbanisasi di kawasan ini yang harus ditangani dan menjadi masukan dalam NUA.

Sebelumnya acara serupa telah diselenggarakan di Kota Semarang (28/04/16), Denpasar (10/05/16), Yogyakarta (17/05/16) dan Solo (24/05/16). Kota selanjutnya adalah Makassar, Jakarta dan Bandung. Masing-masing dengan topik yang terkait dalam tema Agenda Baru Pembangunan Perkotaan: Kohesi Sosial, Kesetaraan dan Kota yang Inklusif, Urban Framework, Pembangunan Spasial, Ekonomi Perkotaan, Ekologi dan Lingkungan Perkotaan, serta Perumahan dan Pelayanan Dasar Perkotaan.

Sumber : www.pu.go.id